Banjir kembali melanda ruas jalan penghubung Desa Bhera menuju Desa Ndai Mbere, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, pada Selasa (10/2/2026). Luapan air yang deras menutup badan jalan dan membuat aktivitas masyarakat lumpuh, terutama bagi para guru dan siswa yang hendak menuju sekolah. Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi, melainkan kejadian berulang yang hingga kini belum mendapatkan penanganan serius.
Jalan Penghubung Lumpuh Total
Ruas jalan antara Desa Bhera dan Desa Ndai Mbere merupakan akses utama warga untuk beraktivitas, termasuk menuju fasilitas pendidikan. Saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut, debit air meningkat drastis dan meluap hingga menutup jalan. Arus yang deras membuat siapa pun harus ekstra hati-hati saat melintas.
Pada kejadian terbaru, sejumlah siswa terlihat menunggu di tepi jalan karena ragu menyeberang. Sebagian lainnya nekat menerobos arus dengan bantuan orang dewasa. Situasi ini jelas membahayakan keselamatan, terutama bagi anak-anak sekolah dasar yang belum memiliki kemampuan fisik untuk menghadapi derasnya aliran air.
Proses Belajar Mengajar Terganggu
Warga Desa Ndai Mbere, Hendrik Wae, mengungkapkan bahwa setiap kali banjir terjadi, guru dan siswa selalu mengalami kesulitan untuk sampai ke sekolah. Kondisi tersebut sudah berulang kali terjadi dan belum ada solusi permanen dari pihak terkait.
Akibatnya, kegiatan belajar mengajar sering terlambat bahkan terpaksa dihentikan sementara. Beberapa siswa memilih kembali ke rumah karena takut menyeberang. Guru pun tidak bisa memaksakan keadaan jika risiko terlalu besar.
Gangguan ini berdampak langsung pada kualitas pendidikan. Jam pelajaran berkurang, materi tertunda, dan konsentrasi siswa terganggu karena perjalanan yang melelahkan serta penuh kekhawatiran.
Risiko Keselamatan Mengintai
Selain menghambat aktivitas pendidikan, banjir di ruas jalan tersebut juga menimbulkan ancaman keselamatan. Arus air yang deras berpotensi menyeret siapa saja yang terpeleset. Jalan yang tertutup lumpur dan bebatuan menambah tingkat bahaya.
Warga biasanya bergotong royong membantu anak-anak menyeberang. Namun, cara ini bukanlah solusi jangka panjang. Tanpa infrastruktur pendukung seperti jembatan atau drainase yang memadai, kejadian serupa hampir pasti akan terus berulang setiap musim hujan.
Beberapa orang tua mengaku khawatir setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi. Mereka harus memilih antara membiarkan anak tetap di rumah atau mengambil risiko menyeberangi banjir demi tetap mengikuti pelajaran.
BACA JUGA : Prabowo dan Albanese Perkuat Hubungan Bilateral Indonesia-Australia di Bidang Pendidikan dan Ekonomi
Harapan Akan Infrastruktur yang Lebih Baik
Masyarakat setempat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret. Pembangunan jembatan permanen atau peningkatan sistem drainase dinilai menjadi solusi paling realistis untuk mencegah banjir meluap ke badan jalan.
Selain itu, perbaikan struktur jalan dan pembuatan tanggul penahan air juga dapat dipertimbangkan. Dengan infrastruktur yang memadai, akses pendidikan tidak lagi terganggu dan keselamatan warga lebih terjamin.
Warga menilai bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar yang harus didukung dengan fasilitas yang layak. Ketika akses menuju sekolah terhambat, masa depan generasi muda ikut dipertaruhkan.
Pendidikan Tidak Boleh Terhenti
Peristiwa banjir yang melanda jalan penghubung Desa Bhera dan Desa Ndai Mbere menjadi pengingat pentingnya pemerataan pembangunan infrastruktur di daerah. Anak-anak berhak mendapatkan akses pendidikan tanpa harus mempertaruhkan keselamatan mereka.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya aktivitas harian yang terganggu, tetapi juga semangat belajar siswa bisa menurun. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan survei dan merancang solusi permanen agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Banjir mungkin merupakan fenomena alam yang sulit dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan dengan perencanaan yang matang. Sudah saatnya akses jalan di wilayah tersebut mendapat perhatian serius demi kelancaran pendidikan dan keselamatan masyarakat.